Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 Desember 2013
Cerpen Romantis Ku Goreskan Luka di Binar Matanya
Ku Goreskan Luka di Binar Matanya
Oleh: Chikita Nawaristika
Cinta..
Dalam hidup ini kita pasti punya cinta. Tentunya cinta yang mengajarkan kita banyak hal menuju kebaikan, bukan cinta yang membawa kita terjerumus pada kesesatan. Cinta adalah bagaimana kita menghargai orang lain, menghargai perasaannya dan juga menghargai hatinya. Menghargai disini bukan berarti kita harus berbohong, tapi menghargai disini maksudnya adalah menghargai apa yang telah dia lakukan untuk kita. Jika kita tak mampu membalas kebaikannya, setidaknya jangan pernah menyakiti hatinya.
Cinta itu ibarat bunga yang tertanam dari perkenalan, tumbuh karena pertemuan, berkelopak melalui kerinduan, berdaun karena pengorbanan, bertangkai lewat pengertian, bersemi karena kesetiaan, berputik melalui ketulusan, dan hingga akhirnya berbunga karena kepercayaan. Tapi, cinta itu akan layu karena kepalsuan, mati melalui perselingkuhan, dan pergi hanya karena ke-egoisan.
Saat ini dalam sepi ku hanya terdiam, terpaku dan membisu. Hanya rangkaian butiran bening inilah yang selalu setia menemaniku di kala aku mengingatnya, mengingat segala kenangan indah dan pedih yang telah ku lalui bersamanya. Aku tau semua emang udah terjadi, tapi penyesalan dan rasa bersalah ini tak akan pernah hilang dari benakku. Aku tak akan mampu menghapusnya dari bayangku, aku tak mampu melupakan semua kejadian itu dan aku tak akan pernah mampu membuang semua kenangan itu begitu saja.
Aku memang selalu di liputi oleh rasa bersalah jika mengingat semua hal yang udah terjadi di masa laluku. Masa lalu yang mampu membuatku menjadi sosok seperti ini, sosok yang penyabar dan tak mudah marah, sosok yang tak pernah membiarkan ke-egoisan merajai diriku dan sosok yang selalu berusaha untuk berpikir positif.
Hari itu aku ingin membeli sebuah sepatu untuk ku pakai sendiri. Dan tanpa ku duga, aku melihat Neyra tak sengaja menjatuhkan tumpukan sepatu yang di pajang di toko tersebut. Karena aku merasa tak tega membiarkannya membereskan sepatu-sepatu yang bergeletakan itu, aku pun membantunya. Sambil colongan ngeliyatin dia tentunya.
Alangkah indah binar yang terlukis di matanya sehingga tak mampu membuatku memalingkan wajah. Jujur se-umur-umur aku gak pernah merasakan hal ini, jantungku gak pernah berdetak sebegitu kencangnya. Rasanya jantung ini seperti loncat-loncat, salto, jungkir balik, manjat-manjat, gelantungan, dan semacamnya. Entahlah, aku sendiri tak bisa mendeskripsikan sebagaimana gugupnya aku saat memandangnya, memandang binar indah dalam bola matanya.
Dengan iseng aku meminta nomor hape dia. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya?? Tanpa aku duga sebelumnya. Aku berhasil mendapatkan nomor hape dia, dia memberikannya dengan seulas senyum penuh makna untukku. Dan saat itu juga jiwaku terasa melayang, aku begitu bahagia, bahagia sekali. Mungkin kedengarannya sedikit lebay, tapi itulah yang benar-benar ku rasakan. Sepertinya aku menyukainya, tapi apakah dia juga merasakan hal ini? Debaran si jantung yang tiada hentinya.
Ya Tuhan, dia ngajak aku jalan? Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan ajakannya itu, meskipun aku sama sekali tak menduga hal ini. Aku segera mandi dan aku bergegas ke tempat yang di-inginkan oleh Neyra. Sebenernya aku udah lama menantikan saat-saat ini. Saat dimana dia mengajakku keluar, saat dimana kita bisa pergi berdua-an. Karena aku ingin mengungkapkan isi hatiku kepadanya, isi hati yang begitu menginginkan dirinya menjadi pelukis di hari-hariku, pelukis keindahan dalam hidupku.
Sesampainya disana kami pun berjalan ke arah air mancur di jantung alun-alun itu.
“Tumben nih, Ra tiba-tiba ngajak aku jalan? Kamu gak malu tah jalan sama aku?” tanyaku yang masih saja dipenuhi rasa terheran-heran.
“Aku pengen ngomong berdua sama kamu, Gas. Malu? Kenapa musti malu? Aku gak akan malu lagi klo jalan sama kamu, malah aku seneng, soalnya klo sama kamu, aku bisa jadi diriku sendiri.” Neyra menjawab pertanyaanku dan begitu membesarkan hatiku.
Tanpa dia sadari, jawaban yang keluar dari bibir indahnya atas pertanyaanku itu telah berhasil membuat jantungku kembali berdetak begitu kencang. Rasanya seperti ada energi tambahan, energi yang semakin meyakinkanku untuk bisa mengungkapkan rasa yang telah tertanam dalam hati ini untuknya.
Tapi tanpa ku duga, tangan Neyra tiba-tiba menggapai tanganku, dia menggenggam tangan ini dan dia bilang..
“Gas, seumpama kamu jadi pacar aku, kamu mau apa nggak?” oh my god, apa dia nembak aku duluan? Kenapa bisa jadi gini? Harusnya kan aku yang nembak dia hari ini.
“Klo seumpama ya gak mau, Ra. Tapi klo beneran ya mau akunya, hehehe..” jawabku dengan nada yang enteng dan terkesan bercanda, padahal aslinya nih jantung udah dag dig dug bangetttt.
“Aku serius Gas, kamu mau apa nggak jadi pacar aku?” Neyra mengulangi perkataannya dengan nada yang begitu serius. Tanpa pikir panjang, aku pun segera mengiyakan pertanyaan itu.
“Mau banget dong, Ra. Siapa coba yang gak mau punya pacar yang cantik banget kayak kamu.”
Iya, aku menerimanya, aku menerima dia menjadi pacarku, kekasihku, unyu-unyuku, hahahaha.
Tak terasa hubungan kami pun terus berlanjut sampai satu tahun sejak tanggal 15 Maret 2009. Hari itu 15 Maret 2010, aku mengajak Neyra ke Gunung Bromo untuk merayakan hari jadian kita. Kalian mau tau kenapa aku memilih tempat itu? Jawabnya karena Neyra belom pernah kesana. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengenalkan kepadanya tempat itu, yang mewujudkan keinginannya untuk bisa menginjakkan kaki di tempat yang penuh keindahan tersebut.
Hari itu rasanya aku menjadi orang yang paling spesial buat dia. Kita berdiri di penanjakan dan ini seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata. Aku beneran memilikinya, aku beneran bersama dia, dan dia bener-bener menyayangiku.
“Seumpama aku di suruh milih suami, aku akan milih suami yang kayak kamu sayang, soalnya kamu itu bukan sekedar pacarku aja, tapi kamu juga bisa jadi temen curhat aku, aku bisa terbuka sama kamu.” Ucapnya seraya mencium pipiku. Akunya sih cuma senyum-senyum aja, tak ada keberanian sedikitpun untuk aku menjawab perkataan Neyra, soalnya aku begitu terkejut, aku gak nyangka banget dia bakalan kayak gitu. Rasa malu dia seperti hilang begitu aja hari itu, padahal di penanjakan itu banyak orang, tapi entah kenapa dia seakan tak mempedulikan mereka, dia tetap mencium pipiku dengan lembut dan tentunya dengan penuh kasih sayang.
Sampai akhirnya, seminggu sebelum ulang tahunku, pertengkaran pun terjadi di antara kami, aku mendapati dia sedang berhubungan dengan seorang cowok. Hal ini aku ketahui setelah aku mengambil secara paksa hape dia, karena aku begitu mencurigai semua sikap aneh dia akhir-akhir ini.
“Ini siapa??” tanyaku dengan nada yang penuh emosi.
“Dia cewek, dia temen satu sekolah aku.”
“Tapi kenapa cewek namanya Vian? Kenapa sih kamu gak jujur aja sama aku? Aku kurang perhatian yah sama kamu?” Ucapku dengan nada bicara yang penuh dengan tanda tanya. Sementara Neyra tak sedikitpun menjawab tanyaku, dia hanya terdiam dan menangis.
“Udah gini aja, sekarang kamu maunya apa? Klo emang mau putus, ngomong sekarang aja, biar aku gak kepikiran terus.” Lanjutku seraya membentak dia.
Mendengar perkataanku itu, Neyra langsung pingsan. Aku panik, aku bingung, dia kenapa? Ada apa dengan dia? Apa aku udah terlalu keras ngomong sama dia barusan? Aku pun langsung mengantarkannya pulang.
“Nak, Gasta bisa ke rumah sakit gak sekarang? Tante tunggu yah” ucap beliau di ujung sana dengan nada suara yang sedikit terbata.
Rumah sakit? Ya Tuhan, ada apa dengan Neyra? Apa Neyra kenapa-kenapa? Tanpa berfikir panjang, aku pun segera bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, aku mendapati Mamanya Neyra sedang berdiri di depan Kamar Jenazah. Jantungku seperti tersentak, kenapa beliau berada disitu? Siapa yang meninggal? Beliau menyuruhku untuk memasuki ruangan itu. Kalian tau apa yang aku lihat? Aku melihat sesosok permaisuriku itu telah terbaring tak berdaya dengan wajah yang pucat. Seketika rasanya aku seperti hilang tenaga, aku ingin menangis, menangisi kepergiannya, menangisi kesalahanku yang menggoreskan luka di mata indahnya sebelum hari ini, hari dimana aku telah melihatnya terbujur kaku di Kamar Jenazah. Aku belum sempat mengucapkan kata maaf untuknya, aku belum sempat melihat senyumnya lagi, aku belum sempat melihat binar indah di bola matanya untuk yang terakhir kalinya. Aku gak ikhlas sama semua ini.
Dengan masih di penuhi tanda tanya akan penyebab kepergian Neyra, aku turut mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir dia. Disana Mama Neyra menceritakan kepadaku, bahwa sebenernya Neyra mengidap kanker otak. Mengetahui hal itu aku jadi semakin terpukul. Setahuku orang yang menderita kanker otak kan gak boleh kebanyakan mikir, tapi aku malah membentak dia, sampai dia pingsan di hadapanku. Aku tak akan pernah bisa menghilangkan rasa bersalah ini. Aku begitu merasa bersalah, bersalah karena telah menggoreskan luka di binar matanya. Kesalahan yang membuat Neyra pergi untuk selamanya.
Pesan terakhir dari Neyra untukku, dia ingin meminta maaf kepadaku karena telah membohongi aku tentang cowok yang biasa sms-an sama dia. Sebenernya dia hanya curhat aja sama cowok itu, dia hanya menceritakan hal yang gak bisa dia ceritakan kepadaku, tentang penyakitnya.
Tanpa aku sadari selama 1 tahun lebih aku menjalin hubungan dengannya, dia menyembunyikan hal itu kepadaku, dia sama sekali tak menginginkan aku mengetahui tentang hal itu. Tapi apalah dayaku, semua udah terjadi, kemarahanku yang telah membuatnya koma selama 2 minggu sampai akhirnya dia menghembuskan nafas yang terakhir.
Selamat jalan permaisuriku, semoga kamu tenang di alam sana, semoga kamu memaafkanku. Aku disini akan tetap mengenangmu, mengenangmu sebagai hal terindah yang pernah ada di hidupku, hal terindah yang pernah terlukis dalam perjalananku yang fana ini. Karena aku telah belajar menyayangimu dengan sebuah rasa yang berbeda, bukan hanya dengan sekedar kata-kata. Karena aku telah menyayangimu dengan sebuah ketulusan, bukan dengan sebuah kepalsuan belaka.
Penulis : Chikita Nawaristika
Fb : chikita.phooh@yahoo.com
Twitter : @cacicu89
Blog : http://archigakiarataka.blogspot.com/
Cerpen lainnya: Apa Ini yang Disebut Cinta? - Cintaku Di Provinsi Sebelah - Hal yang Berbeda.
ReadFull Article ..
Oleh: Chikita Nawaristika
Cinta..
Dalam hidup ini kita pasti punya cinta. Tentunya cinta yang mengajarkan kita banyak hal menuju kebaikan, bukan cinta yang membawa kita terjerumus pada kesesatan. Cinta adalah bagaimana kita menghargai orang lain, menghargai perasaannya dan juga menghargai hatinya. Menghargai disini bukan berarti kita harus berbohong, tapi menghargai disini maksudnya adalah menghargai apa yang telah dia lakukan untuk kita. Jika kita tak mampu membalas kebaikannya, setidaknya jangan pernah menyakiti hatinya.

Saat ini dalam sepi ku hanya terdiam, terpaku dan membisu. Hanya rangkaian butiran bening inilah yang selalu setia menemaniku di kala aku mengingatnya, mengingat segala kenangan indah dan pedih yang telah ku lalui bersamanya. Aku tau semua emang udah terjadi, tapi penyesalan dan rasa bersalah ini tak akan pernah hilang dari benakku. Aku tak akan mampu menghapusnya dari bayangku, aku tak mampu melupakan semua kejadian itu dan aku tak akan pernah mampu membuang semua kenangan itu begitu saja.
***
Namaku Rigasta Ferraldy Priandika, teman-teman biasa memanggilku Gasta. Aku seorang remaja muda yang selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Karena aku menyadari, hidup itu bukan bicara tentang seberapa besar kesalahan kita di masa lalu, tapi hidup itu bicara tentang bagaimana kita di hari ini, bagaimana cara kita untuk memperbaiki diri dan bagaimana cara kita dalam menjalani hari-hari di masa yang akan datang.Aku memang selalu di liputi oleh rasa bersalah jika mengingat semua hal yang udah terjadi di masa laluku. Masa lalu yang mampu membuatku menjadi sosok seperti ini, sosok yang penyabar dan tak mudah marah, sosok yang tak pernah membiarkan ke-egoisan merajai diriku dan sosok yang selalu berusaha untuk berpikir positif.
***
3 tahun yang lalu, aku bertemu dengan sesosok permaisuri impianku. Sosok yang mampu memberi warna hidupku, sosok yang mampu membuatku seperti orang yang paling istimewa di dunia ini. Namanya Neyra Putri Aridya, kami bertemu di salah satu toko sepatu di Kota Malang.Hari itu aku ingin membeli sebuah sepatu untuk ku pakai sendiri. Dan tanpa ku duga, aku melihat Neyra tak sengaja menjatuhkan tumpukan sepatu yang di pajang di toko tersebut. Karena aku merasa tak tega membiarkannya membereskan sepatu-sepatu yang bergeletakan itu, aku pun membantunya. Sambil colongan ngeliyatin dia tentunya.
Alangkah indah binar yang terlukis di matanya sehingga tak mampu membuatku memalingkan wajah. Jujur se-umur-umur aku gak pernah merasakan hal ini, jantungku gak pernah berdetak sebegitu kencangnya. Rasanya jantung ini seperti loncat-loncat, salto, jungkir balik, manjat-manjat, gelantungan, dan semacamnya. Entahlah, aku sendiri tak bisa mendeskripsikan sebagaimana gugupnya aku saat memandangnya, memandang binar indah dalam bola matanya.
Dengan iseng aku meminta nomor hape dia. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya?? Tanpa aku duga sebelumnya. Aku berhasil mendapatkan nomor hape dia, dia memberikannya dengan seulas senyum penuh makna untukku. Dan saat itu juga jiwaku terasa melayang, aku begitu bahagia, bahagia sekali. Mungkin kedengarannya sedikit lebay, tapi itulah yang benar-benar ku rasakan. Sepertinya aku menyukainya, tapi apakah dia juga merasakan hal ini? Debaran si jantung yang tiada hentinya.
***
Sejak pertemuan itu, hari-hariku selalu di penuhi oleh sms-sms dari dia. Kita jadi deket, makin deket dan tambah deket. Dia begitu ramah kepadaku, dia begitu baik kepadaku, dan dia begitu perhatian. Apa dia juga menyukaiku? Entahlah, aku tak mau berharap banyak soal hal ini, tapi klo beneran terjadi, aku pasti akan sangat sangat bahagia dan aku akan selalu menjaganya dengan sepenuh hatiku.From : Neyra
Gas, kamu mau gak jalan-jalan sama aku?
To : Neyra
Kemana, ra?
From : Neyra
Ke alun-alun kota aja gimana? Deket toko yang waktu itu?
To : Neyra
Iyadeh, ra.. tapi aku mandi dulu ya..
From : Neyra
Oke, Gasta.. aku tunggu disana yaa..
Ya Tuhan, dia ngajak aku jalan? Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan ajakannya itu, meskipun aku sama sekali tak menduga hal ini. Aku segera mandi dan aku bergegas ke tempat yang di-inginkan oleh Neyra. Sebenernya aku udah lama menantikan saat-saat ini. Saat dimana dia mengajakku keluar, saat dimana kita bisa pergi berdua-an. Karena aku ingin mengungkapkan isi hatiku kepadanya, isi hati yang begitu menginginkan dirinya menjadi pelukis di hari-hariku, pelukis keindahan dalam hidupku.
Sesampainya disana kami pun berjalan ke arah air mancur di jantung alun-alun itu.
“Tumben nih, Ra tiba-tiba ngajak aku jalan? Kamu gak malu tah jalan sama aku?” tanyaku yang masih saja dipenuhi rasa terheran-heran.
“Aku pengen ngomong berdua sama kamu, Gas. Malu? Kenapa musti malu? Aku gak akan malu lagi klo jalan sama kamu, malah aku seneng, soalnya klo sama kamu, aku bisa jadi diriku sendiri.” Neyra menjawab pertanyaanku dan begitu membesarkan hatiku.
Tanpa dia sadari, jawaban yang keluar dari bibir indahnya atas pertanyaanku itu telah berhasil membuat jantungku kembali berdetak begitu kencang. Rasanya seperti ada energi tambahan, energi yang semakin meyakinkanku untuk bisa mengungkapkan rasa yang telah tertanam dalam hati ini untuknya.
Tapi tanpa ku duga, tangan Neyra tiba-tiba menggapai tanganku, dia menggenggam tangan ini dan dia bilang..
“Gas, seumpama kamu jadi pacar aku, kamu mau apa nggak?” oh my god, apa dia nembak aku duluan? Kenapa bisa jadi gini? Harusnya kan aku yang nembak dia hari ini.
“Klo seumpama ya gak mau, Ra. Tapi klo beneran ya mau akunya, hehehe..” jawabku dengan nada yang enteng dan terkesan bercanda, padahal aslinya nih jantung udah dag dig dug bangetttt.
“Aku serius Gas, kamu mau apa nggak jadi pacar aku?” Neyra mengulangi perkataannya dengan nada yang begitu serius. Tanpa pikir panjang, aku pun segera mengiyakan pertanyaan itu.
“Mau banget dong, Ra. Siapa coba yang gak mau punya pacar yang cantik banget kayak kamu.”
Iya, aku menerimanya, aku menerima dia menjadi pacarku, kekasihku, unyu-unyuku, hahahaha.
***
Hubungan kami pun berjalan dengan apa adanya, tak pernah ada pertengkaran di antara kami. Karena kami membuat janji ‘gak boleh ada air mata dalam hubungan ini’ soalnya si Neyra kan sekolah, dia gak mau aja klo masalah hubungannya denganku mengganggu sekolahnya. Aku pun selalu berusaha jadi kekasih yang terbaik buat Neyra, aku gak mau membuatnya kecewa, karena aku tulus menyayangi dia.Tak terasa hubungan kami pun terus berlanjut sampai satu tahun sejak tanggal 15 Maret 2009. Hari itu 15 Maret 2010, aku mengajak Neyra ke Gunung Bromo untuk merayakan hari jadian kita. Kalian mau tau kenapa aku memilih tempat itu? Jawabnya karena Neyra belom pernah kesana. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengenalkan kepadanya tempat itu, yang mewujudkan keinginannya untuk bisa menginjakkan kaki di tempat yang penuh keindahan tersebut.
Hari itu rasanya aku menjadi orang yang paling spesial buat dia. Kita berdiri di penanjakan dan ini seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata. Aku beneran memilikinya, aku beneran bersama dia, dan dia bener-bener menyayangiku.
“Seumpama aku di suruh milih suami, aku akan milih suami yang kayak kamu sayang, soalnya kamu itu bukan sekedar pacarku aja, tapi kamu juga bisa jadi temen curhat aku, aku bisa terbuka sama kamu.” Ucapnya seraya mencium pipiku. Akunya sih cuma senyum-senyum aja, tak ada keberanian sedikitpun untuk aku menjawab perkataan Neyra, soalnya aku begitu terkejut, aku gak nyangka banget dia bakalan kayak gitu. Rasa malu dia seperti hilang begitu aja hari itu, padahal di penanjakan itu banyak orang, tapi entah kenapa dia seakan tak mempedulikan mereka, dia tetap mencium pipiku dengan lembut dan tentunya dengan penuh kasih sayang.
***
Tapi rasa ini menjadi sedikit terusik di saat ulang tahun dia yang ke-18, tepatnya tanggal 25 Juli 2010. Aku merasakan ada hal yang berbeda pada diri dia. Bukannya berpikir negatif, tapi aku memang tak bisa membohongi apa yang telah aku rasakan. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal, sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.Sampai akhirnya, seminggu sebelum ulang tahunku, pertengkaran pun terjadi di antara kami, aku mendapati dia sedang berhubungan dengan seorang cowok. Hal ini aku ketahui setelah aku mengambil secara paksa hape dia, karena aku begitu mencurigai semua sikap aneh dia akhir-akhir ini.
“Ini siapa??” tanyaku dengan nada yang penuh emosi.
“Dia cewek, dia temen satu sekolah aku.”
“Tapi kenapa cewek namanya Vian? Kenapa sih kamu gak jujur aja sama aku? Aku kurang perhatian yah sama kamu?” Ucapku dengan nada bicara yang penuh dengan tanda tanya. Sementara Neyra tak sedikitpun menjawab tanyaku, dia hanya terdiam dan menangis.
“Udah gini aja, sekarang kamu maunya apa? Klo emang mau putus, ngomong sekarang aja, biar aku gak kepikiran terus.” Lanjutku seraya membentak dia.
Mendengar perkataanku itu, Neyra langsung pingsan. Aku panik, aku bingung, dia kenapa? Ada apa dengan dia? Apa aku udah terlalu keras ngomong sama dia barusan? Aku pun langsung mengantarkannya pulang.
***
Setelah kejadian hari itu, sama sekali tak ada kabar dari Neyra. Dua minggu pun telah kulalui tanpa dia. Di hari ulang tahunku juga tak ada ucapan dari dia untukku. Hingga hari itu, mama Neyra meneleponku.“Nak, Gasta bisa ke rumah sakit gak sekarang? Tante tunggu yah” ucap beliau di ujung sana dengan nada suara yang sedikit terbata.
Rumah sakit? Ya Tuhan, ada apa dengan Neyra? Apa Neyra kenapa-kenapa? Tanpa berfikir panjang, aku pun segera bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, aku mendapati Mamanya Neyra sedang berdiri di depan Kamar Jenazah. Jantungku seperti tersentak, kenapa beliau berada disitu? Siapa yang meninggal? Beliau menyuruhku untuk memasuki ruangan itu. Kalian tau apa yang aku lihat? Aku melihat sesosok permaisuriku itu telah terbaring tak berdaya dengan wajah yang pucat. Seketika rasanya aku seperti hilang tenaga, aku ingin menangis, menangisi kepergiannya, menangisi kesalahanku yang menggoreskan luka di mata indahnya sebelum hari ini, hari dimana aku telah melihatnya terbujur kaku di Kamar Jenazah. Aku belum sempat mengucapkan kata maaf untuknya, aku belum sempat melihat senyumnya lagi, aku belum sempat melihat binar indah di bola matanya untuk yang terakhir kalinya. Aku gak ikhlas sama semua ini.
Dengan masih di penuhi tanda tanya akan penyebab kepergian Neyra, aku turut mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir dia. Disana Mama Neyra menceritakan kepadaku, bahwa sebenernya Neyra mengidap kanker otak. Mengetahui hal itu aku jadi semakin terpukul. Setahuku orang yang menderita kanker otak kan gak boleh kebanyakan mikir, tapi aku malah membentak dia, sampai dia pingsan di hadapanku. Aku tak akan pernah bisa menghilangkan rasa bersalah ini. Aku begitu merasa bersalah, bersalah karena telah menggoreskan luka di binar matanya. Kesalahan yang membuat Neyra pergi untuk selamanya.
Pesan terakhir dari Neyra untukku, dia ingin meminta maaf kepadaku karena telah membohongi aku tentang cowok yang biasa sms-an sama dia. Sebenernya dia hanya curhat aja sama cowok itu, dia hanya menceritakan hal yang gak bisa dia ceritakan kepadaku, tentang penyakitnya.
Tanpa aku sadari selama 1 tahun lebih aku menjalin hubungan dengannya, dia menyembunyikan hal itu kepadaku, dia sama sekali tak menginginkan aku mengetahui tentang hal itu. Tapi apalah dayaku, semua udah terjadi, kemarahanku yang telah membuatnya koma selama 2 minggu sampai akhirnya dia menghembuskan nafas yang terakhir.
***
Sepeninggal Neyra, sempat terlintas di benakku untuk bunuh diri, agar aku bisa menemui Neyra di alam sana, agar aku bisa menyampaikan kata maafku untuknya. Aku udah menyayatkan cutter di tanganku, tapi untung saja tak sampai membuat urat nadiku terputus, karena aku menyadari apa yang akan aku lakukan ini salah. Sampai sekarang, bekas sayatan ini masih membekas di pergelangan tanganku. Semoga ini bisa tetap mengingatkan aku, agar aku tak melakukan kesalahan lagi di hidupku yang selanjutnya.Selamat jalan permaisuriku, semoga kamu tenang di alam sana, semoga kamu memaafkanku. Aku disini akan tetap mengenangmu, mengenangmu sebagai hal terindah yang pernah ada di hidupku, hal terindah yang pernah terlukis dalam perjalananku yang fana ini. Karena aku telah belajar menyayangimu dengan sebuah rasa yang berbeda, bukan hanya dengan sekedar kata-kata. Karena aku telah menyayangimu dengan sebuah ketulusan, bukan dengan sebuah kepalsuan belaka.
THE END
Penulis : Chikita Nawaristika
Fb : chikita.phooh@yahoo.com
Twitter : @cacicu89
Blog : http://archigakiarataka.blogspot.com/
Cerpen lainnya: Apa Ini yang Disebut Cinta? - Cintaku Di Provinsi Sebelah - Hal yang Berbeda.
Sabtu, 07 Desember 2013
Cerpen Senyuman Terpahit
Sebuah cerpen tentang persahabatan atau cerpen sahabat, kiriman dari Rea Kiran.
Sahabat adalah dia yang menghampiri saat dunia menjauh. .
Sahabat bagai bulan purnama yang bersinar saat malam. .
Aku tersenyum sengit mendengar puisi yang di baca temanku di depan kelas. karena aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian itulah yang membuat aku tidak mudah percaya dengan orang lain.
Waktu itu aku masih duduk di bangku smp, aku tidak begitu peduli dengan yang namanya cinta. Aku mempunyai seorang sahabat yang sangat aku percaya semua masalah yang melanda aku, tidak segan-segan aku ceritakan semua masalah ku padanya, sebaliknya pun begitu.
Pagi itu adalah awal dari masalahku. Reva itulah nama sahabatku, tiba-tiba ia bercerita tentang ketua osis di sekolah kami.
“ Disa, aku tadi ketemu sama kak Ovan di gerbang depan.” Katanya dengan senyum lebar.
“sejak kapan kamu ngefans sama kak Ovan ?” jawabku sedikit meledek.
“ hmm. . sejak kita awal MOS. “ jawabnya tanpa ragu.
“ haha. . udah deh jangan ngimpi bisa dapet kak Ovan.” Ledekku.
“ iya sih, banyak juga kakak kelas lain yang lebih cantik dari aku. “ ekspresinya tiba-tiba berubah.
“ haha. . aku Cuma bercanda tahu.” Aku mencoba menghiburnya.
“ udahlah aku juga Cuma ngefans, nggak lebih.” Jawabnya.
Satu minggu kemudian Reva mendapat nomer hp kak Ovan, tanpa aku meminta dia pun juga memberi nomer hp kak Ovan kepadaku.
“ kenapa kamu kasih nomer kak Ovan ke aku ?” Tanyaku sedikit bingung.
“ nggak apa lah, buat koleksi.” Jawabnya dengan nada santai.
Aku hanya mengangguk dan menyimpan nomer itu di ponselku. Sepulang sekolah aku bertemu dengan kak Ovan di depan gerbang, tiba-tiba ia menghampiri aku.
“ nunggu di jemput dek ?” dia mengawali pembicaraan.
“ iya kak.” Jawabku singkat.
“ kenalin dek, aku Ovan.” Dia pun mulai memperkanalkan diri.
“ udah tahu kak.” Jawabku sinis, lalu aku melihat ayahku diseberang jalan, aku langsung berlari ke arah ayahku dan meninggalkan kak Ovan tanpa memperkenalkan namaku. Aku tidak menceritakan kejadian itu ke Reva, dan menurutku itu juga tidak terlalu penting.
Teeeeeett . . teett. .
Jam istirahat pun berbunyi, seperti biasa kita berdua pun langsung berlari ke markas besar para murid yaitu kantin sekolah. Aku mencari tempat duduk dan Reva bertugas membeli makanan. Reva duduk membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas jus. Kami pun mulai menikmati makanan yang kami beli, setelah kenyang kita berdua tidak langsung kembali ke kelas, kita malah asyik membicarakan kakak kelas kami yang duduk di sudut kantin.
“ busettt. . dia tambah cantik aja ya va.” Aku memulai pembicaraan.
“ iya, dia tuh mantannya kak Ovan.” Jawabnya sedikit kesal.
“ oww. . lengkap juga ya info yang kamu dapet tentang kak Ovan.” Jawabku.
“ harus donk sekali kak Ovan tetap kak Ovan. “ jawabnya dengan tersenyum yakin.
“ ya whatever lah.” Jawabku singkat.
“ hah, itu kak Ovan.” Tiba-tiba Reva histeris.
“ haha. . dasar kamu. “ aku melempar tissue ke arah Reva.
“ yee biarin, ya ampun kak Ovan keren banget.” Reva tak sedikitpun berkedip melihat kak Ovan, aku hanya tersenyum melihat tingkah sahabatku itu. Ternyata kak Ovan berjalan ke arah kami, Reva pun semakin salah tingkah.
“ dek Disa.” Panggil kak Ovan kepadaku.
Aku dan Reva hanya terdiam kaget. (Darimana kak Ovan tahu nama ku ?) tanyaku dalam hati. Reva langsung pergi ke kelas. aku tak menghiraukan kak Ovan dan langsung mengejar Reva.
“ Reva tunggu. “ teriakku pada Reva. Dia tak sedikitpun menoleh padaku.
Matematika adalah mata pelajaran terakhir, aku tidak menghiraukan guru nyerocos dengan rumus-rumusnya di depan kelas karena aku sibuk meminta maaf pada Reva. Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari pak Toni memanggil namaku, aku pun maju ke depan kelas dan menyanyi sebagai hukumanku. Sepulang sekolah aku tidak langsung pulang karena ada kelompok di rumah Reva. Aku, Reva, Sera, dan Yuna berjalan menuju ke rumah Reva. Di sepanjang kita semua berjalan aku berusaha meyakinkan Reva soal tadi siang kejadian di kantin, Reva pun mulai percaya padaku.
Satu bulan berlalu aku merasa Reva sedikit menjauhiku. Dia tidak lagi bercerita tentang kak Ovan, aku pun sedikit penasaran.
“ hmm. . gimana kak Ovan ? udah lama kamu nggak cerita tentang pangeran kamu itu.” Tanyaku tanpa basa-basi.
“ hmm. . aku udak nggak contak sama dia lagi.” Jawabnya tanpa ekspresi, aku pun tidak bertanya lebih jauh lagi. Malam hari saat aku sibuk dengan tugas sekolah, tiba-tiba terdengar ponselku berbunyi. Aku sangat kaget, nama yang muncul di layar ponselku nama kak Ovan. Tanpa fikir panjang aku langsung mematikan ponselku dan melanjutkan aktifitasku. Saat menjelang tidur bayangan kak Ovan menghantui aku. (hihhhhh pergi donk kak dari pikiranku, Reva aja yang kakak hantui, jangan aku !) aku berusaha mengusir kak Ovan dari fikiranku.
Hari sabtu itu adalah hari yang di nanti-nanti, hari itu puncak kami berada di kelas satu smp. Kami semua bersorak gembira saat mengetahui hasil kita belajar selama satu tahun sangat memuaskan, mereka semua langsung merencanakan waktu untuk mengisi liburan mereka, aku langsung menjauh dari kerumunan mereka. Dan berlari menuju ke toilet. Ketika keluar dari kamar kecil aku di kagetkan dengan berdirinya kak Ovan tepat di depan ku.
“ dek kenapa kamu sepertinya nggak suka sama aku." Aku sangat kaget dengan ucapannya.
“ aku. . aku. . "
“ kamu nggak enak sama dek Reva ?” potongnya yang semakin menyudutkanku.
“ maaf kak, maksud kakak apa sih ?” jawabku sedikit bingung.
“ dek aku suka sama kamu.” Kata itu adalah yang dinanti Reva.
“ kakak tuh belum kenal aku kak.” Jawabku sedikit menghindar.
“ makannya berii aku kesempatan buat kenal sama kamu.” Jawabnya serius.
“ hmm. . kak, kakak kan tahu kalau Reva yang suka sama kakak, dan yang harusnya kakak suka juga Reva bukan aku.” Jawabku sedikit gemetar.
Aku segera melangkah pergi menjauhi kak Ovan. Reva ternyata mengetahui yang telah terjadi selama ini kalau kak Ovan ternyata suka sama aku. Dan dia juga tahu kalau kak Ovan mengungkapkan rasa padaku. Aku menjelaskan semua pada Reva, tapi Reva hanya tersenyum dan pergi meninggalkan aku. Hari-hari yang aku lewati semasa liburan sangat membosankan.
Lalu aku merencanakan untuk pergi ke pantai bersama kedua kakakku dan menyewa Villa. Hari pertama di Villa aku gunakan untuk jalan-jalan ke pantai, langkahku tak tentu dan tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
“ maaf.. maaf.. aa” aku tidak melanjutkan kalimat yang aku ucapkan. Karena yang aku tabrak adalah kak Ovan.
“ kakak ngikutin aku ya kak ?” tuduhku.
“ ge-er banget kamu dek.” Jawabnya sedikit meledek, wajahku memerah karena malu, aku mulai melangkahkan kakiku untuk meninggalkan kak Ovan tapi aku hentikan dan aku berbalik badan dan berbicara lagi dengan lelaki itu.
“ kak, Reva masih menanti kakak.” Aku tidak tahu mengapa aku mengucapkan hal itu. Tapi tanpa aku sadari ternyata aku juga mempunyai rasa dengan kak Ovan.
“ kalau dek Disa masih menanti aku nggak ?” Tanya kak Ovan, aku langsung berbalik dan tersenyum lebar. Aku langsung berlari kencang dan meninggalkan dia sendiri.
Tanpa sepengetahuanku ternyata Reva iri padaku. Dia memfitnah aku di depan guru matematika kalau aku tidak suka mata pelajaran itu. Guru itu pun langsung percaya padanya karena di kelas satu aku pernah mendapat hukuman karena aku berusaha minta maaf pada Reva. Dan guru matematika itu beranggapan kalau aku bicara dalam pelajarannya, aku langsung di panggil di ruang guru dan mendapat teguran, aku sangat bingung saat itu. Aku bercerita semuanya ke Reva, Reva hanya diam. Aku mulai menaruh curiga padanya, tapi aku tepiskan rasa curiga ku, karena tidak mungkin sahabatku bertindak seperti itu.
Tidak hanya pada guru, pada kak Ovan Reva juga memfitnahku, ia bercerita bahwa aku menghindari kak Ovan karena kak Ovan ternyata memiliki penyakit asma. Hal yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Aku merasa aneh dalam satu minggu itu satu per satu orang yang aku sayangi menghindari aku. Sore hari aku menghibur diriku, dengan berjalan-jalan di sekitar rumahku. Aku melihat kak Ovan bersepeda dengan Reva. (kenapa kak Ovan bersepeda dengan Reva melewati rumahku ya ?). matahri sedikit-demi sedikit menyembunyikan sinarnya, aku memutuskan untuk pulang dan di depan pintu rumah, aku melihat Sera tengah ketakutan. Aku mengageti dia dari belakng.
“ heii. .” aku tersenyum melihat ekspresinya.
“ ah. . Dii. . sa . .” Dia menyebut namaku dengan terbat-bata.
“ ayo masuk, masak di luar aja.” Ajakku.
“ nggak usah dis.. aku Cuma mau ngasih tahu yang sebenarnya terjadi.” Jawab Sera, aku mulai bingung, Sera pun menceritakan semuanya padaku yang sebenarnya terjadi antara aku dengan pak toni, dan kak Ovan.
Aku sangat terkejut mendengar kalimat per kalimat yang keluar dari mulut gadis berambut pirang itu. aku hanya terdiam membisu dan aku tidak menyangka sahabat yang selama ini aku percaya berbuat setega itu demi cinta. Aku pun mulai menjauhi Reva sampai pada aku masuk ke sekolah yang lebih tinggi.
Aku tidak pernah menegurnya lagi. aku tidak pernah bercanda, berbagi pengalaman dengannya. Aku juga tidak pernah bercerita yang sebenarnya pada kak Ovan, aku hanya berharap dia tidak pernah membenci aku dan dia sadar siapa sebenarnya Reva. Inilah kisah persahabatanku yang berakhir dengan penghianatan.
ReadFull Article ..
Senyuman Terpahit
oleh: Rea Kiran
Sahabat bagai bulan purnama yang bersinar saat malam. .
Aku tersenyum sengit mendengar puisi yang di baca temanku di depan kelas. karena aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian itulah yang membuat aku tidak mudah percaya dengan orang lain.
Waktu itu aku masih duduk di bangku smp, aku tidak begitu peduli dengan yang namanya cinta. Aku mempunyai seorang sahabat yang sangat aku percaya semua masalah yang melanda aku, tidak segan-segan aku ceritakan semua masalah ku padanya, sebaliknya pun begitu.
Pagi itu adalah awal dari masalahku. Reva itulah nama sahabatku, tiba-tiba ia bercerita tentang ketua osis di sekolah kami.
“ Disa, aku tadi ketemu sama kak Ovan di gerbang depan.” Katanya dengan senyum lebar.
“sejak kapan kamu ngefans sama kak Ovan ?” jawabku sedikit meledek.
“ hmm. . sejak kita awal MOS. “ jawabnya tanpa ragu.
“ haha. . udah deh jangan ngimpi bisa dapet kak Ovan.” Ledekku.
“ iya sih, banyak juga kakak kelas lain yang lebih cantik dari aku. “ ekspresinya tiba-tiba berubah.
“ haha. . aku Cuma bercanda tahu.” Aku mencoba menghiburnya.
“ udahlah aku juga Cuma ngefans, nggak lebih.” Jawabnya.
Satu minggu kemudian Reva mendapat nomer hp kak Ovan, tanpa aku meminta dia pun juga memberi nomer hp kak Ovan kepadaku.
“ kenapa kamu kasih nomer kak Ovan ke aku ?” Tanyaku sedikit bingung.
“ nggak apa lah, buat koleksi.” Jawabnya dengan nada santai.
Aku hanya mengangguk dan menyimpan nomer itu di ponselku. Sepulang sekolah aku bertemu dengan kak Ovan di depan gerbang, tiba-tiba ia menghampiri aku.
“ nunggu di jemput dek ?” dia mengawali pembicaraan.
“ iya kak.” Jawabku singkat.
“ kenalin dek, aku Ovan.” Dia pun mulai memperkanalkan diri.
“ udah tahu kak.” Jawabku sinis, lalu aku melihat ayahku diseberang jalan, aku langsung berlari ke arah ayahku dan meninggalkan kak Ovan tanpa memperkenalkan namaku. Aku tidak menceritakan kejadian itu ke Reva, dan menurutku itu juga tidak terlalu penting.
Teeeeeett . . teett. .
Jam istirahat pun berbunyi, seperti biasa kita berdua pun langsung berlari ke markas besar para murid yaitu kantin sekolah. Aku mencari tempat duduk dan Reva bertugas membeli makanan. Reva duduk membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas jus. Kami pun mulai menikmati makanan yang kami beli, setelah kenyang kita berdua tidak langsung kembali ke kelas, kita malah asyik membicarakan kakak kelas kami yang duduk di sudut kantin.
“ busettt. . dia tambah cantik aja ya va.” Aku memulai pembicaraan.
“ iya, dia tuh mantannya kak Ovan.” Jawabnya sedikit kesal.
“ oww. . lengkap juga ya info yang kamu dapet tentang kak Ovan.” Jawabku.
“ harus donk sekali kak Ovan tetap kak Ovan. “ jawabnya dengan tersenyum yakin.
“ ya whatever lah.” Jawabku singkat.
“ hah, itu kak Ovan.” Tiba-tiba Reva histeris.
“ haha. . dasar kamu. “ aku melempar tissue ke arah Reva.
“ yee biarin, ya ampun kak Ovan keren banget.” Reva tak sedikitpun berkedip melihat kak Ovan, aku hanya tersenyum melihat tingkah sahabatku itu. Ternyata kak Ovan berjalan ke arah kami, Reva pun semakin salah tingkah.
“ dek Disa.” Panggil kak Ovan kepadaku.
Aku dan Reva hanya terdiam kaget. (Darimana kak Ovan tahu nama ku ?) tanyaku dalam hati. Reva langsung pergi ke kelas. aku tak menghiraukan kak Ovan dan langsung mengejar Reva.
“ Reva tunggu. “ teriakku pada Reva. Dia tak sedikitpun menoleh padaku.
Matematika adalah mata pelajaran terakhir, aku tidak menghiraukan guru nyerocos dengan rumus-rumusnya di depan kelas karena aku sibuk meminta maaf pada Reva. Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari pak Toni memanggil namaku, aku pun maju ke depan kelas dan menyanyi sebagai hukumanku. Sepulang sekolah aku tidak langsung pulang karena ada kelompok di rumah Reva. Aku, Reva, Sera, dan Yuna berjalan menuju ke rumah Reva. Di sepanjang kita semua berjalan aku berusaha meyakinkan Reva soal tadi siang kejadian di kantin, Reva pun mulai percaya padaku.
Satu bulan berlalu aku merasa Reva sedikit menjauhiku. Dia tidak lagi bercerita tentang kak Ovan, aku pun sedikit penasaran.
“ hmm. . gimana kak Ovan ? udah lama kamu nggak cerita tentang pangeran kamu itu.” Tanyaku tanpa basa-basi.
“ hmm. . aku udak nggak contak sama dia lagi.” Jawabnya tanpa ekspresi, aku pun tidak bertanya lebih jauh lagi. Malam hari saat aku sibuk dengan tugas sekolah, tiba-tiba terdengar ponselku berbunyi. Aku sangat kaget, nama yang muncul di layar ponselku nama kak Ovan. Tanpa fikir panjang aku langsung mematikan ponselku dan melanjutkan aktifitasku. Saat menjelang tidur bayangan kak Ovan menghantui aku. (hihhhhh pergi donk kak dari pikiranku, Reva aja yang kakak hantui, jangan aku !) aku berusaha mengusir kak Ovan dari fikiranku.
Hari sabtu itu adalah hari yang di nanti-nanti, hari itu puncak kami berada di kelas satu smp. Kami semua bersorak gembira saat mengetahui hasil kita belajar selama satu tahun sangat memuaskan, mereka semua langsung merencanakan waktu untuk mengisi liburan mereka, aku langsung menjauh dari kerumunan mereka. Dan berlari menuju ke toilet. Ketika keluar dari kamar kecil aku di kagetkan dengan berdirinya kak Ovan tepat di depan ku.
“ dek kenapa kamu sepertinya nggak suka sama aku." Aku sangat kaget dengan ucapannya.
“ aku. . aku. . "
“ kamu nggak enak sama dek Reva ?” potongnya yang semakin menyudutkanku.
“ maaf kak, maksud kakak apa sih ?” jawabku sedikit bingung.
“ dek aku suka sama kamu.” Kata itu adalah yang dinanti Reva.
“ kakak tuh belum kenal aku kak.” Jawabku sedikit menghindar.
“ makannya berii aku kesempatan buat kenal sama kamu.” Jawabnya serius.
“ hmm. . kak, kakak kan tahu kalau Reva yang suka sama kakak, dan yang harusnya kakak suka juga Reva bukan aku.” Jawabku sedikit gemetar.
Aku segera melangkah pergi menjauhi kak Ovan. Reva ternyata mengetahui yang telah terjadi selama ini kalau kak Ovan ternyata suka sama aku. Dan dia juga tahu kalau kak Ovan mengungkapkan rasa padaku. Aku menjelaskan semua pada Reva, tapi Reva hanya tersenyum dan pergi meninggalkan aku. Hari-hari yang aku lewati semasa liburan sangat membosankan.
Lalu aku merencanakan untuk pergi ke pantai bersama kedua kakakku dan menyewa Villa. Hari pertama di Villa aku gunakan untuk jalan-jalan ke pantai, langkahku tak tentu dan tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
“ maaf.. maaf.. aa” aku tidak melanjutkan kalimat yang aku ucapkan. Karena yang aku tabrak adalah kak Ovan.
“ kakak ngikutin aku ya kak ?” tuduhku.
“ ge-er banget kamu dek.” Jawabnya sedikit meledek, wajahku memerah karena malu, aku mulai melangkahkan kakiku untuk meninggalkan kak Ovan tapi aku hentikan dan aku berbalik badan dan berbicara lagi dengan lelaki itu.
“ kak, Reva masih menanti kakak.” Aku tidak tahu mengapa aku mengucapkan hal itu. Tapi tanpa aku sadari ternyata aku juga mempunyai rasa dengan kak Ovan.
“ kalau dek Disa masih menanti aku nggak ?” Tanya kak Ovan, aku langsung berbalik dan tersenyum lebar. Aku langsung berlari kencang dan meninggalkan dia sendiri.
Tanpa sepengetahuanku ternyata Reva iri padaku. Dia memfitnah aku di depan guru matematika kalau aku tidak suka mata pelajaran itu. Guru itu pun langsung percaya padanya karena di kelas satu aku pernah mendapat hukuman karena aku berusaha minta maaf pada Reva. Dan guru matematika itu beranggapan kalau aku bicara dalam pelajarannya, aku langsung di panggil di ruang guru dan mendapat teguran, aku sangat bingung saat itu. Aku bercerita semuanya ke Reva, Reva hanya diam. Aku mulai menaruh curiga padanya, tapi aku tepiskan rasa curiga ku, karena tidak mungkin sahabatku bertindak seperti itu.
Tidak hanya pada guru, pada kak Ovan Reva juga memfitnahku, ia bercerita bahwa aku menghindari kak Ovan karena kak Ovan ternyata memiliki penyakit asma. Hal yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Aku merasa aneh dalam satu minggu itu satu per satu orang yang aku sayangi menghindari aku. Sore hari aku menghibur diriku, dengan berjalan-jalan di sekitar rumahku. Aku melihat kak Ovan bersepeda dengan Reva. (kenapa kak Ovan bersepeda dengan Reva melewati rumahku ya ?). matahri sedikit-demi sedikit menyembunyikan sinarnya, aku memutuskan untuk pulang dan di depan pintu rumah, aku melihat Sera tengah ketakutan. Aku mengageti dia dari belakng.
“ heii. .” aku tersenyum melihat ekspresinya.
“ ah. . Dii. . sa . .” Dia menyebut namaku dengan terbat-bata.
“ ayo masuk, masak di luar aja.” Ajakku.
“ nggak usah dis.. aku Cuma mau ngasih tahu yang sebenarnya terjadi.” Jawab Sera, aku mulai bingung, Sera pun menceritakan semuanya padaku yang sebenarnya terjadi antara aku dengan pak toni, dan kak Ovan.
Aku sangat terkejut mendengar kalimat per kalimat yang keluar dari mulut gadis berambut pirang itu. aku hanya terdiam membisu dan aku tidak menyangka sahabat yang selama ini aku percaya berbuat setega itu demi cinta. Aku pun mulai menjauhi Reva sampai pada aku masuk ke sekolah yang lebih tinggi.
Aku tidak pernah menegurnya lagi. aku tidak pernah bercanda, berbagi pengalaman dengannya. Aku juga tidak pernah bercerita yang sebenarnya pada kak Ovan, aku hanya berharap dia tidak pernah membenci aku dan dia sadar siapa sebenarnya Reva. Inilah kisah persahabatanku yang berakhir dengan penghianatan.
Selasa, 22 Oktober 2013
Kumpulan Cerpen Cinta Terbaru
Cerpen Cinta - Untuk mengungkapkan perasaan cinta memang tidak hanya dapat diungkap melalui puisi cinta dengan bait-bait metafora yang membuat puisi tersebut terdengar sangat romantis. Namun untuk mengungkapkan perasaan cinta dapat juga diungkapkan melalui karya tulis berupa cerpen atau cerita pendek. Menulis cerpen juga dapat menjadi awal mula karir anda dalam penulisan cerita fiksi. Menulis cerpen berbeda halnya dengan menulis novel, karena menulis cerpen tidak membutuhkan banyak waktu seperti halnya menulis novel yang memiliki alur cerita yang panjang. Selain itu lebih banyak alternatif untuk menyalurkan cerpen anda, mulai dari majalan, koran dan internet yang banyak memuat kumpulan cerpen cinta terbaru setiap harinya.
Cerpen Cinta
Untuk menulis cerpen anda juga tidak perlu ribet untuk menjelaskan alur cerita sedemikian panjang, sebab cerpen akan menceritakan titik pokok masalah dalam sebuah cerita dengan singkat, padat namun jelas pada intinya. Selain itu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sebuah penulisan, adalah seperti berikut:
TEMA
Gunakan tema yang unik ketika menulis cerpen, agar mudah disampaikan kepada pembaca, serta cari tema mengenai hal-hal baru yang terjadi disekitar sehingga lebih mudah menarik perhatian pembaca.
ALUR CERITA
ALUR CERITA
Berbeda halnya dengan novel, jika dalam cerpen anda harus benar-benar fokus pada alur cerita sesuai dengan tema yang diciptakan di awal. Jangan sampai alur cerita yang anda buat semakin bercabang mulai dari karakter, latar belakang dan detail lainnya. Karena dalam cerpen anda cukup menggunakan karakter secukupnya yang sesuai dengan alur cerita.
SEPENGGAL KISAH HIDUP
Berbeda dengan novel, jika dalam cerpen anda cukup menuliskan kisah hidup dari karakter dalam cerita hanya sebagai background yang menjadi penguat tema cerita tersebut. Tekankan hanya pada satu bagian dari hidupnya untuk ditulis dalam cerita tersebut.
PENGGUNAAN KATA
Pilihlah penggunaan kata yang efisien dan menghindari menggunakan kalimat deskriptif yang berpanjang-panjang, sebab biasanya cerpen yang dimuat di koran dan internet akan membatasi jumlah kata yang dapat dipakai dalam cerita tersebut.
IMPRESI
Pada umumnya cerpen dimulai dengan pengenalan karakter, konflik dan resolusi. Untuk lebih membuat pembaca tertarik dengan cerita anda, buatlah impresi pada pembaca di awal cerita dengan langsung menghadirkan konflik. Sedangkan pengenalan karakter, setting, dll dapat dilakukan secara perlahan-lahan di bagian cerita berikutnya.
KEJUTAN
Beri kejutan kepada pembaca di akhir cerita. Dengan membuat cerpen yang berisi cerita yang sulit untuk ditebak akan membuat pembaca merasa penasaran dengan cerita anda.
KONKLUSI
Sama halnya dengan memberi kejutan. Pembaca perlu dibuat berkesan pada akhir cerita, tentang apa yang terjadi pada karakter tersebut. Dengan akhir cerita yang mengesankan akan menjadi daya tarik untuk selalu dikenang oleh pembaca.
Selain beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan cerpen, anda juga harus mengetahui beberapa hal umum dalam pembuatan cerpen seperti tempo waktu, setting, penokohan, dialog, alur dan baca ulang cerita yang anda buat sebelum benar-benar akan diterbitkan.
Cerpen Cinta
Untuk membuat cerpen cinta pada umumnya biasanya menggunakan kejadian yang terjadi sehari-hari, pembahasan mengenai cinta atau patah hati, dan beberapa hal baru yang terjadi di masyarakat yang menarik untuk diangkat. Banyak kumpulan cerpen cinta terbaru yang dapat ditemukan dikoran bahkan internet, karena sudah semakin banyak alternatif mudah untuk mencari informasi bahkan cerpen cinta. Sekian ulasan mengenai Kumpulan Cerpen Cinta Terbaru, semoga dapat bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)